UrrrGhhhhh…….

April 14th, 2007 by hoesni

UrrGhhh bingung memang ketika harus mengambil pilihan untuk melangkah kemana…ketika seorang berkata kepadaku "kongkrit donk.." apa yang harus ku kongkritkan lagi…bukankah ketika ngomong tentang ‘rasa’ semua sudah manifes..atau memang masih kurang…yup…tidak ada pemverbalan atas sebuah pilihan tetapi bukankah semua memang tidak harus selalu eksplisit…bukan karena tidak ada pemverbalan kemudian semuanya tidak ada konsekuensi logis yang secara implisit menjadi komitmen atau nilai yang memagarinya…ah rumit memang ketika semua harus selalu di ‘definisi’ kan…proses dan waktu memang menjadi ukurannya..bukan kemudian menjadi instant untuk mengambil pilihan…bukan juga tidak mau melangkah ke fase berikutnya…titik penantian yang pasti akan di jemput itu…pilihan fair dan tidak fair…semua berhak untuk mendapat porsi yang sama…tuntutan untuk serius juga mengandung konsekuensi menjalaninya dengan serius dan fokus…atau persoalan yakin dan ga yakin bukankah masing-masing harus meyakinkan satu sama lain…karena menjadi yakin atau tidak yakin bukan persoalan ‘rasa’ semata tapi pilihan yang rasional…

-untuk seseorang di sana…-

MiSS u and LoVe U sOo MuCh…;-)

Bookmark and Share

Refleksi Dari Seorang Kawan….

January 27th, 2007 by hoesni

POLITIK  LOKAL, PARTAI  NASIONAL

Refleksi paling penting atas gagalnya sekian eksperimentasi politik dan pembangunan organisasi gerakan sosial adalah karena tidak adanya keterlibatan rakyat di dalamnya. Lebih lugas lagi karena tidak dibela oleh rakyat atau apa yang mereka usung tidak senada dengan ‘pilihan hidup’ rakyat banyak. Akankah ideologi yang selama ini diusung ‘gagal’ menjawab persoalan atau lebih karena piranti organisasi yang dibuat tidak lagi relevan ? Tanpa bermaksud mempertentangkan satu sama lain, proses refleksi secara lebih kritis layak dilakukan.

Mengutip dari Giddens, kita akan menemukan dua tema sentral yang ia kemukakan yakni : struktur (structure) dan pelaku (agency), serta ruang (space) dan waktu (time). Saling hubungan antara stuktur dan pelaku bukan lagi dalam kerangka saling bertentangan tapi dualitas (hubungan timbal balik); ‘antara tindakan dan struktur saling mengandaikan.’ Struktur baginya adalah ‘aturan (rule) dan sumberdaya (resources) yang terbentuk dari dan membentuk perulangan praktik sosial.’ Sementara pelaku adalah orang yang konkret dalam ‘ arus kontinu tindakan dan peristiwa dunia.’ Selanjutnya ruang dan waktu dipahami bukan sebagai arena atau panggung tindakan, yang menentukan kemana kita masuk dan keluar. Akan tetapi unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat.

Apa yang oleh Giddens disebut sebagai Strukturasi ini konon adalah upaya jawab yang lebih pas bagi situasi saat sekarang.

Salah satu kritik yang dilontarkan pada Giddens atas teorinya ini, dikarenakan di banyak negara dunia ketiga termasuk negara kita adalah ketiadaannya prasarana yang memadai bagi berkembang dan meluasnya ‘politik pilihan hidup’ yang ia anjurkan. Akan tetapi menurut hemat saya tak lantas kemudian kita berhenti pada titik ini. Penciptaan tata politik yang lebih baik, mengembalikan politik pada raison d’etre-nya yaitu penciptaan tata keadilan menjadi hal yang penting. Tak cukup kita hanya bersikap antagonis terhadap berjalannya ‘ekonomi pasar’ sebagai sebuah fakta sejarah yang terbentang di depan mata kita. Jika kemudian kita memperturutkan apa yang menjadi gagasan Giddens ini, maka ada dua hal yang bisa kita lakukan ; Pertama, pembaharuan etos dan praksis politik sebagai upaya penciptaan kebaikan umum (common good). Kedua, penataan kembali (reconstruction) negara-bangsa sebagai komunitas.

Politik Lokal

Politik lokal disini lebih pada sebuah upaya mendorong berkembang lebih luas lagi ‘politik pilihan hidup’ di tengah masyarakat. Karena pada hemat saya berpolitik bukan hanya milik pemerintah atau partai politik, berpolitik juga milik semua golongan masyarakat berkait dengan pilihan-pilihannya.

Kenapa politik lokal ? Lokalitas yang saya maksud disini bukan sebagai sebuah upaya untuk melakukan ‘delinking’ atau membatasi perbincangan hanya dalam batas lokal dengan menutup diri. Tanpa harus menyoal apa yang terjadi dalam wilayah lebih besar lagi, misal nasional atau internasional. Lokal yang dimaksud disini agar lebih bisa mendaratkan ide atau gagasan kepada akar persoalan masyarakat sesungguhnya hasil pengalaman praktek sebelumnya.    

Pilihan ini sebetulnya berdasar pada pembacaan atas neo liberalisme yang titik letak persoalan terbesarnya menurut hemat saya adalah kemampuannya meletakan kebebasan tindakan/pilihan tunggal sebagai kebenaran dan diyakini sebagai satu-satunya pilihan oleh masyarakat. Karena itu kemudian perlu kiranya gerakan sosial atau gerakan politik masyarakat menyodorkan sebuah alternatif tentang ‘tindakan’ dan ‘pilihan’ baru yang ujungnya adalah kesamaan (equality) bagi setiap orang untuk menentukan apa yang ‘terbaik’ (common good)bagi mereka.

Selama ini jika kita runut lagi kebelakang sebetulnya beberapa praktek gerakan sudah mengakomodasi banyak kebutuhan masyarakat banyak menyangkut ‘pilihan hidup’, seperti pengungkapan kasus-kasus tanah desa, soal hutan, upaya penyelesaian persoalan ekonomi masyarakat dst. Itu menjadi modal awal yang telah tersedia. Akan tetapi karena tidak tersedianya piranti politik yang memadai, sekian modal yang telah ada itu seringkali kembali tercerai berai, harus mulai dari nol lagi dan tidak memiliki makna politik. Hal tersebut bisa dimaklumi karena memang pilihan gerakan baru sebatas gerakan sosial yang ruang lingkupnya terbatas, belum menjadi gerakan politik yang lebih konkrit.

Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi latar persoalan dalam tubuh gerakan di tingkat lokal pasca reformasi, pertama, belum tuntasnya proses refleksi tentang kegagalan gerakan baik yang bertendensi ‘moderat’ sampai yang ‘paling radikal’ sekalipun. Alhasil konsolidasi gerakan maupun upaya menjembatani antara kutub-kutub yang berbeda-beda ini seringkali kandas meski telah berkali-kali dilakukan. Kedua, selama ini gerakan (jika merujuk pada pembagian yang dilakukan Herbert Feith)

akan kita temukan dua model ; solidarity-makers atau tipe yang lebih banyak berkutat di persoalan politik di satu sisi dengan ‘administrator’ atau yang lebih banyak berkerja di persoalan lebih ‘konkret’ dalam masyarakat. Aktivis gerakan yang terlibat dalam ormas atau partai politik (politik) mewakili tipe pertama, sementara aktivis gerakan sosial di ngo berada di tipe kedua. Keduanya seringkali bersitegang satu sama lain, merasa bahwa jalan politik mereka yang paling benar atau kepemilikan mereka atas detail persoalan di masyarakatlah yang paling pantas jadi rujukan dan seterusnya. Buntutnya dalam masyarakat sendiri terpilah menjadi dua kutub seperti ini. Dan proses konsolidasi demokrasi hanya menjadi pepesan kosong belaka.

Titik temu antara kedua hal ini adalah solidaritas pada persoalan masyarakat, nilai-nilai yang demokratis dan sikap yang lebih humanis. Artinya pada gerakan lokal ini tendensi yang sifatnya ideologis, chauvinist terhadap kelompoknya sendiri dan banyak hal yang menjadikan berbeda satu sama lainnya menjadi bukan tujuan pokok yang harus dipertentangkan. Bagaimana masyarakat dapat memecahkan persoalan mereka sendiri dan mereka mampu secara politik mendapatkan kekuasaannya kembali dalam wilayah lebih kecil menjadi hal pertama. Dalam benak saya jika PR pertama ini bisa diselesaikan atau setidaknya diredakan terlebih dahulu, akan lebih mudah kemudian menentukan apa ‘tindakan’ yang harus dilakukan dan ‘pilihan’ yang hendak kita bentangkan di hadapan masyarakat banyak. Proses menyatukan dua hal yang selama ini berada di wilayah yang saling bersitegang ini memang akan memakan waktu dan tidak akan sertamerta jadi sesuai harapan kita. Mengingat sejarah pertentangan ini telah berlangsung cukup lama dan menyisakan kecurigaan, prasangka dan kekhawatiran satu sama lain yang sulit dihapuskan begitu saja. Tapi sebagai sebuah ikhtiar untuk memecah kebuntuan dan upaya untuk memperbarui dan menata praktik politik gerakan di tingkat lokal yang lebih baik menjadi layak dilakukan.

Partai Politik

Demokrasi hari bukanlah demokrasi kerakyatan yang kita idealkan, dimana rakyat yang menentukan hitam-putihnya kebijakan pemerintah. Demokrasi saat sekarang hanya menjadi alat bagi segelintir elit bisnis maupun politik untuk melancarkan kepentingannya, dan demokrasi rentan terhadap intervensi aktor-aktor yang sesungguhnya anti demokrasi. Kenyataan ini tidak bisa kita bantah, mengingat fakta inilah yang ada di depan mata kita.

Ketiadaan piranti politik yang memadai bagi gerakan rakyat pasca 1998 menjelaskan tidak berjalannya agenda demokrasi sebagaimana mestinya. Karena aspirasi masyarakat tidak pernah tertuang secara nyata dalam bentuk kebijakan. Partai politik, menurut hemat saya adalah instrumen yang mampu menjembatani proses konsolidasi demokrasi pasca ditumbangnkannya rezim.  Ada beberapa hal yang mendasarinya, pertama, parpol adalah salah satu kendaraan ‘terbaik’ untuk terlibat dalam pengelolaan kekuasaan secara aktual dan efektif, kedua, fungsi parpol tidak hanya mengawasi jalannya pemerintahan tapi juga menggantikan pemerintahan tersebut, ketiga, kapasitas partai yang mampu menjangkau masyarakat luas dan bekerjanya partai bukan hanya berdasar isu tapai persoalan mendasar masyarakat.

Tidak bisa kita ahistoris terhadap gerak sejarah yang sedang berjalan (baca: demokrasi liberal), sebab itulah dasar tindakan kita. Membatasi gerakan rakyat hanya pada wilayah sosial-ekonomi belaka tak akan membawa hasil sesuai harapan, demikian pula sebaliknya. Bersikap dogmatis dan abai terhadap gerak sejarah hanya akan menjerumuskan gerakan rakyat pada kesalahan berikutnya. Benar bahwa saat sekarang ini partai politik yang ada bukanlah partai yang berbasis pada program yang termuskan dari apa-apa yang yang dibutuhkan oleh rakyat. Benar pula bahwa partai politik tak lebih hanya cerminan dari praktek patron-clien, mengandalkan ketokohan atau figur yang membutakan pemilih serta berwatak oligarkhi. Hal semacam ini yang kemudian mendorong bermunculan partai baru yang diinisiatifi oleh kelompok-kelompok gerakan yang sebelumnya bermain dalam domain sosial-ekonomi.

Akan tetapi buruknya tubuh partai politik yang ada tak lantas kemudian menjadi alasan untuk menafikan keberadaan institusi politik ini sebagai instrumen yang efektif bagi perjuangan kepentingan (politik) rakyat. Akankah kita membiarkan suara pemilih, tahun demi tahun hanya dimanipulasi dan dikendalikan oleh elit politik lokal dan kebijakan yang dihasilkan hanya menjadi sarana negosiasi kepentingan orang-orang yang duduk di legeslatif. Sementara kaum pergerakan hanya menyodorkan ‘tawaran’ kebijakan. Bukankah politik itu juga bermakna negosiasi,’kompromi’ dan juga habituasi atau pembiasaan terhadap aturan main yang sedang berlaku. Menjalankan proses transisi demokrasi secara radikal dengan mendesakan kepemimpinan politik baru atas pemerintah yang terpisah dengan elit politik lama telah dilakukan sebelumnya sebagai bentuk eksperimentasi politik. Akan tetapi proses transisional tak kunjung juga menampakan hasil, lingkaran kekuasaan masih diduduki oleh elit-elit lama dan incumbent.

Keterlibatan kaum pergerakan dalam ruang ‘baru’ bernama partai ini saya maknai sebagai sebuah siasat. Tidak muluk-muluk dengan membuat partai baru misalnya, mengingat masih terpecah belahnya gerakan dan selama ini proses pembangunan gerakan memang tidak diarahkan agar garakan sosial bertransformasi menjadi gerakan politik. Atau sebagai bentuk tunduknya gerakan terhadap aturan main demokrasi liberal. Keterlibatan kaum pergerakan dalam tubuh partai tak lebih sebagai sebuah ikhtiar untuk memotong mata rantai kekuasaan minimalnya di tingkat daerah yang selama ini tidak dimiliki gerakan rakyat dalam arti sesungguhnya. Akhir kata membangun sebuah proses politik yang baik tak cukup hanya dengan ‘niat baik’ kita tapi butuh juga piranti politik sebagai sarana penopang terselenggaranya sekian kebaikan yang kita idealkan.

@ Febrian Nugroho

Gendhu-gendhu rasa dari Lereng Merapi

Bookmark and Share

Sebuah Refleksi Dari Seorang Kawan….

January 27th, 2007 by hoesni

Menjalin Benang Kusut, Membangun Harap

Febrian Nugroho

Entah, asal muasal gagasan ini memang upaya jawab atas situasi yang dirasakan oleh pelaku-pelaku yang ada di dalamnya atau sebetulnya tak lebih dari mimpi tentang ‘kebesaran’ masa lalu belaka yang hadir di kala siang bolong, mendesak-desak untuk ditumpahkan. Sulit memang melupakan kegemilangan dan desakan hasrat untuk ‘melakukan lagi pengalaman lampau’. Apalagi jika situasi kekinian yang dihadapi menghasilkan sekian analisa kebutuhan akan hal tersebut. Begitulah dunia gerakan.

Apapun itu, risalah tentang gerakan suka atau tidak suka akan punya impact bagi orang perorang atau kelompok yang punya kaitan di dalamnya. Baik kegemilangan-keterpurukan, ingatan baik-buruk, kegembiraan-kepedihan bahkan kesumat dan seterusnya. Mengingat dunia gerakan adalah medan pertarungan, tempat dimana logika survival of the fittest menemukan tempat berbiak. Yang sejati layaknya iklan kecap no.1, setiap hari penuh hiruk pikuk rivalitas, saling sikut, kasak-kusuk sana-sini sampai pada titik ada yang menag dan ada yang kalah. Begitulah tubuh gerakan.   

Adapun tulisan ini tak lebih hanya catatan kecil, sedikit usaha untuk merenung, usaha dan urun rembug yang tidak terlalu penting adanya. Meski ada pula setitik harap akan situasi lebih baik.

Individualisme dan Kolektivisme

Menjadi ‘sama dan sebangun’ tak semudah mengucap. Saat identitas melekat, dituntut kerelaan, kesanggupan menerima berbagai perkara dari menaati aturan main hingga menjalankan serangkaian kewajiban. Suka atau tidak suka kita. Begitulah hidup berkolektif, menempatkan kedirian kita dalam satu bagian yang berbeda dengan bagian lainnya. Pilihan berkolektif  melahirkan batas tentang apa yang seharusnya dan tidak, benar-salah, diperbolehkan-dilarang. Dari gagasan hingga bagaimana kita bertindak serba berdasar pertimbangan. Sebab kita adalah representasi…

Seperti halnya demokrasi, dimana yang berlaku adalah majority rule bukan minority rule. Berkolektif pada beberapa segi, menempatkan kita berada disituasi bahwa sekian kebebasan yang kita punya ada waktunya harus tunduk pada kehendak yang ‘lebih banyak’. Konon kebersamaan tindakan itu bagi Hannah Arendt demi pencapaian good life. Toh, manusia itu bukan hanya animale rationale (meminjam istilah Arendt) tapi juga sebagai zoon logon ekhon atau mahluk yang membangun dirinya melalui tindakan bertutur dengan sesamanya secara rasional.

Ikhtiar untuk mencapai ‘kebaikan umum’ ini pula yang mendasari lahirnya Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging) berpuluh tahun lalu, yang menarik dari organisasi kaum muda ini karena manifesto politiknya (1923) menyebut tentang ide kesatuan atau ideologi kesatuan dan demokrasi sebagai titik tekan, dalam kerangka pembebasan nasional dari penjajahan. (demikian salah satu bunyinya :“…keikutsertaan semua lapisan masyarakat dalam perjuangan pembebasan…untuk mencapai tujuan bersama itu semua unsur atau lapisan rakyat perlu kerjasama seerat-eratnya…” ). Tak semonumental keberadaan Budi Utomo atau Sumpah Pemuda, manifesto politik ini. Karenanya tak tercatat dalam lembar buku sejarah kita sebagai tonggak kebangkitan nasional. Tapi yang pasti sejak kala itu ber-kolektif, berhimpun atau berkumpul menjadi semacam prasyarat yang harus terpenuhi bagi kaum pergerakan.

Lantas pertanyaan berikutnya: “Mungkinkah dilakukan di jagad serba cepat ini?” Dimana ruang dan waktu telah dimampatkan. Tanpa sadar kitapun adalah bagian dari pemuja kecepatan. Dari pagi hingga fajar kembali mengintip lagi kita terus bergerak, mendorong roda kapitalisme modern yang terus menerus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan sosial demi perguliran kapital. Akankah kita bisa bicara tentang solidaritas, berbincang tentang kebaikan umum? Sementara kita dihadapkan pada ‘takdir’ baru kita sebagai homo oeconomicus. Ya, sejak kaum ‘kanan baru’ yang dimotori Hayek dan Milton Friedman memperbarui argumen kaum liberal sebelumnya, neoliberalisme mulai unjuk gigi. Bagaimana manusia dan masyarakat disusun harus merujuk gagasan baru ini. Bagi mereka manusia sejati adalah homo eoconomicus, manusia yang memperhitungkan semua hal yang dilakukannya dalam kerangka rugi-laba, laiknya pasar dan bahkan menghargai semua yang ada dalam dirinya sebagai modal (capital). Gavin Kendall, menyebut bahwa ‘seluruh gugus relasi kehidupan adalah perusahaan’. Dunia modern ini seperti ‘lokomotif’ demikian ujaran Giddens. Lajunya tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya, demikian pula jalurnya. Saya bayangkan, ia akan menggilas kemana-mana, sesekali terlihat tetap lain waktu tak menentu arah dan tak bisa diramal. Bergerak semakin cepat, bergegas atau kita akan terlindas. Tak cukup lagi kaum pergerakan hanya bermodal niat baik mendorong sebuah tatanan politik dimana kehendak rakyat yang sebenar-benarnya sebagai dasar dan tujuan kekuasaan. Mengingat demokrasi rakyat selalu kalah ditengah jalan, rakyat banyak yang berkubang peluh segelintir orang yang mengambil untung atasnya. Sederhananya butuh piranti lebih jelas, agar segala langkah bisa dihitung dan setidaknya menang atau kalah bisa diperkirakan sejak mula.

Berjalan sendiri-sendiri jelas hanya mengulang kesalahan, sementara berhimpun sebagai alternatif jalan terbaik tak semudah membalik telapak tangan. Butuh tak hanya gagasan, ideologi atau cita-cita tentang hari depan lebih baik. Karena ide beriring dan harus sejalan dengan praksis. Gagasan hendaknya punya kaki yang kokoh sebagai penopangnya. Hari ini tak ada gagasan yang lebih hebat, bahkan gagasan paling progresif revolusioner sekalipun. Bukan waktunya lagi berbicara kiri lebih hebat, karena sejarah menerbitkan fakta tentang kekalahan demi kekalahan. Menyakini diri sendiri sebagai yang sejati dan bersikap dogmatis seperti halnya menyerahkan diri untuk dipesiangi kesekian kalinya. Sebab semuanya tak lagi dibatasi dan karena jantung kebebasan modern saat ini memberi ruang seluasnya bagi gagasan.

                

Piranti Kaum Pergerakan

Tak ada ruang saat ini untuk menghirup nafas dengan leluasa, polusi kekuasaan menjangkit dimana-mana. Sementara disaat bersamaan tersedia ruang luas bagi siapapun (meminjam istilah Spinoza) untuk tidak hanya bermain di luaran. Pilihan yang tersedia bagi kaum pergerakan adalah ; pertama, bersikukuh dengan cara baca lampau tentang moral dan menghindari ruang ‘politik praktis’. Kedua, terlibat dalam gelanggang pertarungan politik yang sesungguhnya. Jika pilihan pertama kita ambil, kita harus bersiap menanggung resiko menjadi bagian yang tersingkir (sebelum bertarung) sejak awal. Ini kenyataan yang tak bisa kita pungkiri. Mengingat demokrasi hari ini bukanlah pilihan ideal, demokrasi saat ini tak akan pernah menyediakan ruang bagi kaum kebanyakan untuk mendapatkannya secara cuma-cuma. Benar bahwa keberadaannya (demokrasi elektoral) punya sekian keterbatasan dan bopeng-bopeng wujudnya tapi harus kita ingat pula, hanya alat itu yang tersedia. Sebagai realitas sosial, ia akan tetap berjalan meski kita berusaha mengingkarinya. Saat kita jatuhkan pilihan yang kedua, prasyarat yang sedari mula harus kita penuhi adalah tak lagi malu-malu berbicara politik. Sebab sejatinya berpolitik adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Proses lobi, protes, usulan dan seterusnya itu juga bagian berpolitik.

Lantas apa selanjutnya ? Piranti politik jelas harus dipersiapkan, apakah itu partai politik, organisasi massa, ngo atau bentuk organisasi layaknya gerakan sosial lainnya. Setiap bentuk yang akan kita pilih akan berkesesuaian dengan fungsinya masing-masing, mengingat satu bentuk dengan lainnya punya serangkaian keterbatasan. Yang pasti persoalan yang sedari mula menghadang di depan mata adalah bagaimana melibatkan banyak golongan untuk terlibat dalam organisasi apapun yang kita pilih, berikutnya bagaimana menopang hidup organisasi dan terakhir bagaimana kita bisa mempraktekan demokrasi dalam tubuh organisasi yang kita hidupi. Apakah merah, hijau atau abu-abu garis yang melintang di wajah masing-masing.

Dalam beberapa hal saya sepakat dengan tesis Guillermo O’Donnell, bahwa di masa transisional saat sekarang piranti politik yang tepat sebagai ruang konsolidasi demokrasi bagi kaum pergerakan adalah partai. Setidaknya itu bisa kita lihat dari pengalaman kecepatan kelompok yang berbasis agama seperti PKS merebut momentum dalam panggung kekuasaan. Atau yang dilakukan elit-elit kelompok borjuis yang menggunting dalam lipatan, menumpang gerakan massa rakyat yang bersusah payah menjatuhkan rezim sebelumnya. Singkat kata, sudah mendesak kiranya bagi gerakan sosial merubah dirinya menjadi gerakan politik. Tak cukup hanya bermain pada satu isu ke isu lainnya seperti waktu-waktu sebelumnya. Agar tidak semakin berserakan, terasing dari dinamika rakyat sendiri dan mengasingkan rakyat untuk mengetahui apa pilihan-pilihan terbaik buat kelanjutan hidup mereka sendiri.

Tak semudah melontarkan gagasan memang. Tatkala melihat kenyataan yang membentang di hadapan kita, tentang negri yang proses perkembangannya tak sempurna ini. Kalau menilik sejarah perkembangan bangsa-bangsa di eropa, kita akan dengan mudah sepaham dengan Moore saat berujar ; “No Bourgeoisie, No Democracy.  lain halnya dengan negri kita, saat menilik materi yang ada dalam tubuh masyarakat kita, yang memberi catatan atas gagalnya kelas borjuis pribumi menjadi penopang tumbuh kembangnya demokrasi. Kelas menengah yang hidupnya tergantung dari belas kasihan negara, selalu memilih posisi aman dan berambisi atas kekuasaan untuk agar perut mereka tidak kosong.

Catatan buruk semacam ini hendaknya jadi pelajaran untuk menentukan hari depan yang hendak diemban kaum pergerakan. Ada secercah optimisme yang layak kita jadikan pertimbangan; “Jika kapitalisme merupakan sistem ciptaan manusia, pastilah kita dapat mengubahnya.” Semestinya memang demikian. Akan tetapi apakah merubah itu tak hanya sekedar menjadi harap dan kata belaka, jika kita masih saja bersitegang untuk memilih kapitalisme atau sosialisme. Sementara seluruh kekayaan kita dirampok dan rakyat banyak terus menerus menjadi bagian yang terhisap dan menderita, namun bukan untuk apa-apa (suffered for nothing). Kenapa tidak belajar dari Luiza Erundina (dalam wilayah kecil) di Sao Paolo dengan slogannya : “Put the government of our city in the People’s hand.”  Tentunya dengan sekian piranti politik yang kita punyai.

Menjalin Benang

Saya cukup terprovokasi dengan sebuah tulisan yang berujar bahwa untuk saat sekarang radical politic bukan hanya milik kelompok "kiri", bahkan mereka telah kehilangan monopoli atas kata "revolusi". Ada benarnya juga, sebab hampir semua lapisan tak peduli jenis kelamin, golongan dan seterusnya menjadi korban. Ingatan masa lalu juga membawa sebuah refleksi tentang politik yang penuh sesak dengan slogan tapi teramat sulit menggerakan lebih banyak lagi kelompok yang senasib sepenanggungan. Layaknya pegelaran sandiwara, kaum pergerakan hanya diisi muka-muka lama dari golongan yang seragam (kelas menengah) dan berpindah-pindah dari satu persoalan ke persoalan berikutnya. Tanpa kejelasan ujung dan pangkalnya.

Berpolitik menjadi sedemikian melelahkan. Belum lagi saat harus bergesekan dengan kelompok lain karena perbedaan isu, peran, fungsi dan seterusnya. Dan kembali harus tercerai berai. Pukulan lebih telak lagi manakala hasil yang seharusnya dituai oleh rakyat banyak, dikakangi kelompok yang tak jelas ujung pangkalnya pula. Meski sekian kontrak politik telah dilakukan. Lengkap sudah bahwa kerja-kerja politik di gerakan (pengorganisasian) tak lebih hanya menyediakan panggung kekuasaan bagi yang tidak berhak.

Trauma politik menjadi bukan hal baru, yang dituai setelahnya. Ketiadaan piranti politik yang memadai dan ketidakjelasan arah gerakan melahirkan satu dua generasi kaum pergerakan yang berpolitik hanya berdasarkan ukuran perut dengan menjadi kutu loncat di panggung kekuasaan, demoralisasi hingga alergi dengan segala hal berbau politik dan hal-hal lainnya. Sementara rakyat banyakpun tak kunjung beranjak dari situasi yang mereka alami sebelumnya. Bahkan semakin kebingungan dengan sekian gagasan yang ditawarkan kepada mereka.

Benang yang berserakan seharusnya sesegera mungkin dijalin, apapun warna dan bentuknya. Dengan bahasa yang lebih membumi tentang ‘pilihan hidup’.Awalannya adalah kelas menengah, yang berkehendak berada dalam gelanggang kekuasaan bukan hanya untuk memenuhi nafsu bagi penuhnya isi perut. Tapi memenuhi ‘takdir’ bagi hidup yang lebih baik. 

Lereng Merapi, 10 Januari 2007

Febrian Nugroho

Bookmark and Share

…….Kepalsuan

December 1st, 2006 by hoesni

NAMAKU KEPALSUAN

Pagi itu mentari malas sekali untuk hanya sekedar menggeliat
Namun kau hadir , tersenyum, dan jadi mentari baruku menawarkan cinta
Lalu kau berbisik di telingaku, maukah mengarungi samudera kasih berperahukan rindu berlayarkan keabadian berdayungkan cita menuju mata angin kebahagiaan, berdua saja
Mau…mau…aku melonjak-lonjak girang
Namun kau merajuk, kita tak bisa mengarungi samudera tanpa pelabuhan tempat perahu kita berangkat, buatlah satu saja, ujarmu
Kubilang, tidak kah kau lihat pesisir pantai di tepian sana, kita bangun satu mulai sekarang
Namun kau merajuk lagi, sembari mencumbuku, menggauliku, dan mengusik birahiku, aku tunggu disini sayang, kau buatlah sendiri, nyanyimu
Ah…bibirmu itu, matamu itu, kecupanmu itu lenakan ku
Dan ku pun tersihir seperti yang kumau
Tunggulah satu masa berganti disini, kan kupersembahkan semesta untukmu
Tok…tok…tok…gubrak…gubrak…gubrak…selesai juga, pelabuhan, perahu, layar, dan dayung itu untuk kita
Sayang, ayo kita berlayar malam ini, teriakku
Kulihat kau tak menyahut, hanya tertawa riang dan berlari menghampiriku
Di sisiku kau terdiam sejenak, perahu itu terlalu kecil untuk kita, kau disini saja dulu menghitung mentari tenggelam, membilang belahan ombak, ku kan berlayar sendiri saja, manjamu
Dan kau menghilang tanpa kembali, tanpa selamat tinggal, hanya berbisik,
"O ya, namaku Kepalsuan, namamu siapa ?".

(Puisi Bayu Adhiwarsono)

Bookmark and Share

……….Also Sprach Zarathustra……….

December 1st, 2006 by hoesni

"Dan apa yang kalian sebut sebagai dunia, seharusnya terlebih dahulu diciptakan oleh kalian ialah : nalar kalian , rupa kalian, kehendak kalian, untuk menjadi cinta  kalian sendiri! Dan sebenarnya, untuk kesucian kalian, wahai kalian makhluk yang mengetahui !"

Bookmark and Share

Metafilsafat

December 1st, 2006 by hoesni

Nalar Puitis sebagai Metafilsafat

PERTENGKARAN keluarga dalam kubu humanisme terus berdengung sampai sekarang. Pertengkaran antara kubu pembela nalar di satu sisi dan kubu pembela naluri di sisi lain. Antara yang Cartesian dan yang Nietzschean. Para Cartesian menuduh pembela naluri merendahkan manusia. "Cogito ergo sum!" jerit mereka. Kodrat manusia terpusat pada nalar, bukan nalurinya. Naluri dilempar dari kemanusiaan karena mempersandingkan manusia dengan hewan. Bersembunyi di balik Cogito, manusia berada di puncak hierarki gradasi wujud.

Nalar mengandaikan semesta yang hadir dan bisa dimengerti. Bersembunyi di baliknya adalah iman akan ketersambungan antara pikiran dan kenyataan. Naluri, di lain pihak, memiliki modus berpikirnya sendiri. Dengannya, manusia melampaui yang hewani dan manusiawi sekaligus. Naluri untuk penguasaan Nietzsche, misalnya, mengenyahkan logos yang membentang di luar, namun diam-diam menariknya ke dalam.

Dua tradisi yang berseteru seolah-olah berdiri berseberangan. Namun, sesungguhnya mereka berbagi iman yang sama secara epistemo-ontologis. Semesta ini asing. Dan, transenden ini hanya bisa disingkap apabila ontologi manusia ditelanjangi bulat-bulat. Descartes mengerti manusia sebagai substansi yang berpikir, sedangkan Nietzsche memahami manusia sebagai naluri untuk penguasaan. Bertolak dari itulah semesta ditarik dari persembunyiannya. Kodrat manusia adalah kunci utama pembuka pintu rahasia semesta raya.

Apabila yang transenden menjadi titik tolak tradisi teori pengetahuan dalam filsafat, tidak demikian halnya dengan puisi. Bagi puisi, kenyataan selalu sudah menampilkan dirinya dalam bahasa. Kenyataan adalah semata-mata soal modus pengucapan. Maka, tinimbang mencari ketelanjangan sebuah rahasia, puisi mengerahkan tenaganya untuk menelusuri modus pengucapan baru. Alternatif yang dikejar adalah modus pengucapan representasional bahasa sains dan filsafat, sebuah modus pengucapan yang mengandaikan keterwakilan semiotis realitas dalam bahasa.

Puisi tidak melentingkan kita ke tanah tak berjejak. Ia tak berpeluh-peluh mengejar kebenaran sejati. Ia tidak melakukan penyingkapan apa pun. Yang ia kejar semata-mata kosakata baru realitas. Muara perbincangan ini adalah filsafat yang membujur kaku. Refleksi atas puisi adalah akhir hayat filsafat. Para filsuf terkaget-kaget saat mendapati bangkai epistemologis yang disisakan puisi, seperti saat Nietzsche menemukan "yang tak berasal" setelah merefleksikan puisi-puisi klasik Yunani. Atau Heidegger yang menghentikan proyek ontologi fundamentalnya setelah membaca puisi-puisi Holderlin. Pembelokan sastra, literary turn, sedang menggayuti jagat pemikiran kontemporer. Nalar yang notabene merupakan peranti rohani utama filsafat dalam membuka segel epistemologis sedang mencapai titik nadirnya. Saya membaca gejala ini sebagai gejala metamorfosis nalar menuju bentuknya yang puitis.

Metafilsafat

Collin McGinn, salah satu filsuf Amerika kontemporer, melontarkan gagasan tentang apa yang disebutnya sebagai metafilsafat. Sebuah penyelidikan filosofis tentang apa sesungguhnya kodrat dari persoalan filsafat, kemungkinan pengetahuan filosofis dan metode yang diadopsi demi kemajuan filsafat. Sebuah filsafat tentang filsafat. Menurut McGinn, ada dua tradisi besar metafilsafat yang saling bertolak belakang. Pertama adalah tradisi Platonian. Tradisi ini berkeras bahwa persoalan filsafat adalah persoalan esoteris. Filsafat adalah disiplin yang memacu nalar manusia menggapai "yang esoteris". Tradisi kedua adalah Wittgensteinian. Bertolak belakang dengan Plato, Wittgenstein menolak apa yang disebut sebagai persoalan esoteris filsafat. Persoalan filsafat sesungguhnya adalah persoalan bahasa. Pertanyaan filosofis menjadi semu dan tak bermakna akibat penyalahgunaan bahasa. Dengan kata lain, persoalan filsafat sesungguhnya adalah soal penyembuhan bahasa.

Tulisan saya, Tanah Tak Berjejak Para Penyair ("Bentara", Kompas, 2 Mei 2003), berusaha mendamaikan dua tradisi metafilsafat tersebut dengan mengajukan hipotesis nalar puitis. Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang absolut-esoteris, namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. Nalar puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan. Selalu ada yang bergentayangan di luar modus pengucapan yang dominan. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. Oleh karena itu, modus bernalar biasa harus ditinggalkan. Modus bernalar yang mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan baru. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif, tetapi pada pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru.

Heidegger meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. Bernalar bagi Heidegger adalah keunggulan filsafat. Karenanya, filsafat harus memiliki modus bernalar yang melebihi ilmu-ilmu positif, yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada jawaban positif melainkan, seperti diisyaratkan Russel, melulu prihatin pada pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. Pelebaran yang sesekali harus melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri. Ini yang dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat, mulai dari Yunani klasik sampai modern. Bagi Heidegger, semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya, yaitu Ada yang menopang segala adaan. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada.

Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang Ada. Kelumpuhan ini, menurut Heidegger, disebabkan oleh filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis, nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benak dan kenyataan, nalar yang mewakili bukan menyingkap. Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis. Mulai dari filsuf Milesian yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya, sampai Descartes yang menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang dunia. Bahkan, Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia sebagai naluri untuk penguasaan.

Saat nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden, kidung bait-bait puisi dalam tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Nalar pun sekadar kalkulasi, bukan eksplorasi. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi, bukan pemikiran.

Kematian nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. Nalar yang melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran, bukan menciptakan. Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik. Padahal, seperti dikemukakan Whitehead, spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Ia mentransendenkan semua metode. Nalar adalah naluri dasar manusia yang senantiasa merindu pada yang tak terbatas. Ini yang membuat sebuah kemajuan dimungkinkan.

Naluri kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata secara komunitarian. Saat nalar terkurung oleh kategori-kategori kultural, jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. Ia menjadi ansilla historica, hamba sejarah. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. Kesia-siaan yang dituduhkan para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. Nalar identik dengan universalisme, kata mereka. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis.

Saya menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. Hipotesis yang ternyata banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak. Sebagian menafsirkannya sebagai maklumat hukuman mati bagi nalar. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis saya. Tuduhan-tuduhan itu cukup berdasar. Hanya serangan terakhir yang terdengar menggelikan. Saya dituduh memutlakkan jalan puisi. Sungguhkah demikian?

Jelas tergurat bahwa nalar puitis bukan puisi. Puisi bagi saya sekadar metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya. Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan, filsafat, dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu. Fisika, misalnya, dicela Heidegger sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran. Mengapa? Karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. Ia hanya berfokus menghitung-hitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif.

Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan". "Kelainan" berbeda dengan yang transenden. Transendensi adalah modus epistemologis, sementara "kelainan" adalah modus puitis. Di mana letak perbedaannya? Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. Tanah berjejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang dataran kognitif baru yang dituju. Sementara "kelainan", sebaliknya, tidak berurusan dengan kategori benar-salah. Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan. Yang dikejar oleh nalar puitis, bukan kebenaran baru, melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun.

Selanjutnya, apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai rumah Ada, ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang saya maksud. Namun, ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada, maka ia terjebak dalam epistemologi. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada, melainkan membangun rumah-rumah Ada yang baru. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman). Pengambilan jarak Dasein, yakni being in the world, adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik. Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis.

Matinya epistemologi

Kapan manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. Sejarah adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran pertanyaan nalar puitis. Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita tidak lagi bertanya. Kalaupun bertanya, maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan komunitaris. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan epistemik satu komunitas. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang dirajutnya sendiri. Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah.

Benarkah demikian? Nietzsche dalam bukunya, Beyond Good and Evil, mempersoalkan klaim universalitas yang baik dan yang jahat. Yang baik dan yang jahat, menurut Nietzsche, adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral. Ia adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. Persoalan ini sepintas persoalan aksiologis (nilai). Namun, sesungguhnya ia adalah persoalan epistemologis (pengetahuan). Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang buruk adalah buatan tangan sejarah. Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan satu-satunya. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya.

Berakar dari proyek-proyek genealoginya, Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang klaim-klaim relativisme kaum sofis, gagasan yang mendapatkan pembenaran dari hampir semua komentatornya. Saya sendiri akan bertanya, apakah Nietzsche sedang mempraktikkan nalar komunitaris yang tak berpuisi? Atau, sungguhkah Nietzsche bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal, kalau membuka halaman demi halaman buku-bukunya, kita menemukan jarum-jarum aforisme yang tajam menghunjam indra. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang disahkan sejarah.

Nietzsche, sebaliknya, justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi moral baru. Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Ikatan yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. Pengetahuan moral yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan Nietzsche. Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah pengetahuan moral, Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang benar dan salah. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. Melampaui relativisme. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche. Nalar puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. Bergerak liar mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Dan, semuanya itu hanya mungkin karena dorongan naluri akan yang lain.

Naluri akan yang lain. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah. Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti semesta. Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa kejutan dan entakkan. Semua tanda tanya harus dipastikan. Kalau tidak, manusia hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam. Kondisi yang tentu saja tak mengenakkan. Manusia lebih suka hidup dalam-menyitir Giddens-kesadaran praktis. Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya. Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat.

Semua tanda tanya harus dipastikan. Satu saja lolos, tertib kosmis akan mengalami gangguan. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan epistemologis yang mengganggu. Manusia butuh kepastian. Seperti jejaka yang menunggu jawaban pinangannya dari sang dara. Keliaran nalar pun harus dihentikan. Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib. Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar. Yang nyata adalah rasional dan yang rasional adalah nyata, menurut Hegel. Alam bekerja berdasarkan satu gramatika. Dan, gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar yang patuh.

Jatuhnya nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh. Keberanian nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh kecemasan epistemologis yang berlebihan. Padahal, justru relativisme lahir dari rahim kecemasan sedemikian. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar lingkungan komunitarisnya, yaitu lingkungan yang memberlakukan satu aturan bagi kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Karl Raimund Popper, filsuf sains termasyhur, menolak bentuk komunitarianisme macam itu. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya, Thomas Kuhn. Bagi Popper, Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang memacetkan daya transendensinya. Daya transendensi nalar, menurut Popper, adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. Ia mencibir metode induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains. Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata logika. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta yang bertolak belakang.

Lahirlah nalar falsifikasi menggeser segala dogma, ideologi, atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian, melainkan kehampiran. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Ia hanya bisa dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. Teori yang paling tahan uji adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran.

Puitiskah nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. Berkat falsifikasi, sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. Namun, kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik. Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak. Kesatuan gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper. Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya. Paul Feyerabend, seorang anti-Popperian, menggugat linieritas nalar falsifikasi Popper. Baginya, mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya sendiri-sendiri. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. Ia tidak tunggal, namun seperti digagas Wittgenstein, harus dikembalikan pada permainan bahasa masing-masing komunitas.

Kelompok penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah konstruksi budaya. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan pengetahuan. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas, universalitas, dan ketetapan. Budaya, sebaliknya, sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini seiring alun sejarah. Mengatakan pengetahuan sebagai produk budaya sama artinya dengan mengatakan bahwa pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. Ia berubah dan bercabang bersama sejarah.

Pergeseran dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis. Bagaimana kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan kata lain, bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty, Jurgen Habermas, dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati masalah ini. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masing-masing komunitas. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar percakapan yang bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup bersama.

Nalar percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak. Ia adalah prosedur bagi masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. Ia tidak berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri, melainkan prosedur yang sehat percakapan antargramatika. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi ketidakterjebakannya pada gramatika, kelompok nalar percakapan memang terdengar puitis. Namun, ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri menyimpan masalah. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masing-masing gramatika. Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya.

Ini membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. Nalar hanya diaksentuasikan dalam merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. Namun, tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. Tidak digerakkan secara lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. Tuduhan monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer.

Kemandekan upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. Apa mendominasi apakah. Sebuah potret semesta yang digambarkan Heidegger sebagai perlahan-lahan dilanda kegelapan. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban. Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. Saat manusia berhadapan dengan teka-teki yang tak terpecahkan, yang transenden didatangkan sebagai juru selamat. Tuhan bekerja secara misterius, habis perkara.

Yang transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi. Setelah nalar berhenti, intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Yang transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati. Nalar manusia terbatas. Begitu cibir para mistikus. Namun, nalar puitis tak mengenal horizon seperti itu. Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. Pencarian yang menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. Melampaui yang benar dan yang salah menurut sejarah. Menggeser relativisme, sekaligus senantiasa penuh selidik terhadap universalisme-absolutisme.

Hening

Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam, "segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo, ingat dan sadar, pada segurat keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis.

Pada masa yang mulai melupakan apakah ini, ingat dan sadar akan "yang hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya. Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains, teologi, dan filsafat. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah, teologis, atau filosofis yang mulai menua dan membosankan. Saatnya bagi sains, teologi, dan filsafat untuk berhening sejenak. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. Singkat kata, belajar merangkul kembali "kelainan" yang hilang.

Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. Melainkan, senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. Para sahabat yang melontarkan kritik pada tulisan saya, Tanah Tak Berjejak Para Penyair, sungguh tahu bagaimana memainkan nalar secara puitis. Mereka membuka dimensi-dimensi yang saya sendiri tak menyadarinya sebelum ini. Mereka membaca sebuah gramatika baru dalam embrio pemikiran. Pembacaan yang membuat saya kembali berkhidmat pada "yang lain" dan "yang hening".

Donny Gahral Adian Dosen Filsafat UI, Puisi-puisinya dibukukan dalam Menulis Sajak Itu Indah (1998)

Bookmark and Share

Tuhan telpon donk…..

December 1st, 2006 by hoesni

……..Tuhan telpon aku dong tak usah lama-lama,

           sedetik cukuplah

           dan hidupku akan sempurna……..

Bookmark and Share

Is God Dead?

December 1st, 2006 by hoesni

………….Zarathustra 

‘Dan apakah yang dilakukan si orang suci ini di hutan?’ tanya Zarathustra. Si orang suci menjawab: ‘Aku membuat nyanyian dan menyanyikannya; dan ketika aku membuat nyanyian, aku tertawa, menangis dan bersenandung: jadi dengan melakukan semua itu aku memuji Tuhan. Dengan bernyanyi, menangis, tertawa, dan bersenandung aku memuji tuhan yang adalah tuhanku. Tetapi apa yang engkau bawa kepada kami sebagai hadiah?’ Ketika Zarathustra mendengar kata-kata ini ia mengucapkan selamat berpisah dan berkata: ‘Apa yang dapat kumiliki untuk kuberikan kepadamu? Tapi biarkanlah aku pergi dengan segera agar aku tidak mengambil sesuatu daripadamu!’ Dan kemudian mereka berpisah, si orang tua dan lelaki itu, sambil tertawa seperti dua anak lelaki tertawa.

Tetapi ketika Zarathustra sendirian ia berbicara kepada dirinya sendiri: ‘Mungkinkah itu? Si orang suci di hutan ini belum mendengar apa-apa tentang hal ini, bahwa Tuhan sudah mati!’

(Nietzsche)

Bookmark and Share

Eksistensialisme

December 1st, 2006 by hoesni

Absurditas Eksistensialisme
– Sebuah Kesadaran


Sudah jelas, sudah pasti dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Aku bahkan baru tahu kalau ada
pertanyaan konyol semacam itu!

Dunia ya dunia, dunia ini apa? Dunia ini ya dunia!
Hidup ya hidup, hidup ini untuk apa? Hidup ini ya untuk dihidupi!
Di sini ya di sini, dimanakah aku? Kamu ya ada di sini!
Kini ya kini, masa apakah sekarang? Sekarang ya masa sekarang!
Sudah jelas, sudah pasti dan tidak perlu dipermasalahkan lagi.

Kamu ya kamu, siapakah aku? Kamu ini ya namamu!
Dari mama, papa, tuhan, monyet, protozoa, protein dan petir. Dari manakah asalku? Terserah!
Makan, kerja, tidur, bangun, makan, tidur. Apakah yang aku lakukan? Jangan lupa gosok gigi dan
jangan banyak tanya!
Bayi, kecil, remaja, pemuda, dewasa, dan mungkin orang tua-renta. Menjadi apakah aku? Yang
pasti mayat!
Sudah jelas, sudah pasti dan tidak perlu dipermasalahkan lagi.

Sudah jelas, sudah pasti dan tidak perlu dipermasalahkan lagi? Aku bahkan baru tahu kalau pertanyaan
konyol semacam itu ADA!

Winarto Tandiono
March 2001

Bookmark and Share